Sepuluh Unggulan Satu

--BIODATA—
 
·      Nama : Daffa Albari Naufal
·      Alamat : Komplek Deppen RRI, jalan Pemancar IX no VI
·      Hobby : Gamerss
·      Tempat tanggal lahir : Jakarta/ 08-12-1996
·      Cita-cita : Jadi Direktur PT. APPLE Indonesia
·      Motto : Hardworking Defeat Talent
·      Gaya Belajar : Auditorial
·      No. HP : Privasi





LASKAR PELANGI
                Pagi itu, waktu aku masih kecil, aku duduk di bangku panjang di depan sebuah kelas. Sebatang pohon filicium tua yang meneduhiku. Ayahku duduk disampingku, memeluk pundakku dengan kedua lengannya dan tersenyum mengangguk-angguk pada setiap orang tua dan anak-anaknya yang duduk berderet-deret di bangku panjang lain di depan kami. Hari itu adalah hari yang agak penting: hari pertama masuk SD
        Di ujung bangku-bangku panjang tadi ada sebuah pintu terbuka. Kosen pintu itu miring karena seluruh bangunan sekolah sudah doyong seolah akan roboh. Di mulut pintu berdiri dua orang guru seperti para penyambut tamu dalam perhelatan. Mereka adalah bapak tua berwajah sabar, Bapak K.A Harfan Efendy Noor, sang kepalah sekolah dan seorang wanita muda berjilbab, Ibu N.A Muslimah Hafsari atau Bu Mus. Seperti Aayhaku, Mereka Berdua juga tersenyum
        Namun senyum Bu Mus adalah senyum getir yang dipaksakan karena tampak jelas beliau sedang cemas. Wajahnya tegang dan gerak-geriknya gelisah. Ia berulang kali menghitung jumlah anak-naka yang duduk di bangku panjang. Ia demikian khawatir sehingga tak peduli pada peluh yang mengalir masuk ke pelupuk matanya. Titik-titik keringat yang bertimbulan di seputar hidungnya menghapus bedak tepung beras yang dikenakannya, membuat wajahnya coreng moreng seperti pemeran emban bagi permaisuri dalam Dul Muluk, sandiwara kuno kapung kami
        “Sembilan orang … baru Sembilan orang Pamanda Guru, masih kurang satu. . .,” katanya gusar pada bapak kepala sekolah. Pak Harfan menatapnya kosong.
        Ternyata bukan hanya Bu Mus saja yang panik, tetapi para orang tua murid ikut panik. Mereka takut anak-nakanya tidak dapat bersekolah dan harus menjadi kuli. Aku berfikir sejak dulu lebih baik aku menjadi kuli kopra agar dapat membantu ekonomi keluarga tetapi ayah ku tidak menginginkannya.
        Aku mengenal para orangtua dan anak-anaknya yang duduk di depanku, Kecuali seorang anak lekaki kecil kotor berambut keriting merah yang meronta-ronta dari pegangan ayahnya. Ayahnya itu tak beralas kakai dan bercelana akin belacu. Aku tak mengenal anak beranak itu. Da selebihnya adalah teman baikku.
        “Kita tunggu sampai pukul sebelas.” Kata Pak Harfan pada Bu Mus da seluruh orang tua yang telah pasrah. Suasanan hening seketika.
        Waktu pun berjalan sampai pukul sebelas tetapi tidak ada satupun murid yang bertambah di sekolah itu. Pak Harun pun harus rela menutup seoklah itu karena muridnya tidak mencapai sepuluh orang. Dengan perasaan sedih Pak Harun dan Bu Mus berdiri di depan menghadap orang tua dan ingin mengumumkan bahwa sekolah akan ditutup. Baru Pak Harfan mengucapkan Assalamu’alaikum tiba-tiba Trapani berteriak berkata “HARUN”
        Harunlah yang menjadi penyelamat kami. Ia seperti seorang pahlawan. Bu Mus pun yang tadinya berkeringan dengan expresi wajah panik bercampur bingungpun akhirnya tersenyum karena sekolah tidak jadi ditutup
        Bagiku pagi itu adalah pagi yang tak terlupakan sampau puluhan tahun mendatang karena pagi itu aku melihat Lintang dengan canggung menggenggam sebuah pensil besar yang belum diserut seperti memegang sebilah belati. Ayahnya pasti telah keliru membeli pensil karena yang ujung satu berwarna biru dan ujung satunya lagi berwarna merah. Bukannya pesil seperti itu buat tukang jait atau tukang sol untuk menggaris? Bukan untuk menulis.
        Hal yang tak akan pernah kulupakan adalah bahwa pagi tiu aku menyaksikan seorang anak pesisir melarat—teman sebangku—untuk pertama kalinya memegang pensil dan buku, dan kemuudiam pada tahun-tahun berikutnya, setiap apa pun yang ditulisnya merupakan buah pikiran yang gilang gemilang, karena nanti ia—seorang anak miskin pesisir—akan menerangi rembulan menjadi manusia paling jenius yang pernah kujumpai dalam hidupku.
        Suasana sekolah kami tidak akan pernah berubah untuk Sembilan tahun kedepan karena hanya kami sajalah yang akan menjadi murid-murid di sekolah Muhammadiyah. Hal itu tidak membuat teman-teman malas akan belajar. Kadang-kadang pun kalau sedang musim hujan, kami selalu membersihkan kelas dan mengeluarkan kambing karena saat hujan kambingpun mengungsi di kelas kami seperti korban Tsunami.
        Hari demi hari kami lalui bersama. Suka,duka,kita lalui. kami menjuarai lomba karnaval pada 17 Agustus. Saat kami juara ada sorang anak perempuan pindah dari SD Timah. ia berkata bahwa di sekolah Muhammadiyah ada sebuah keajaiban khusus yang hanya bisa dilihat olehnya.
        Kami sepuluh murid tidak percaya akan kemampuan dia. Seolah-olah dia seperti meramal masa depan kami. Lalu kami diajak ke sebuah pulau untuk mencari seorang dukun yang akan meramalkan masa depan kami. Tapi ternyata hasil yang begitu sia-sia karena saat kami mendapatkan kertas yang diberikan oleh dukun tersebut, terdapat sebuh tulisan “Rajin-rajinlah kamu belajar agar jadi anak pandai”. Aku dan kawan-kawanku langusng menjauhi anak itu. Anak itupun menghilang karena ikpa kami yang terlalu kasar kepadanya. Ia menghilang di sebuah hutan yang jauh dari desa kami. Akhirnya ia ketemu dan kembali bersekolah.
        Sikap ia berubah. Ia lebih suka membaca buku dari pada berbincang-bincang dengan kami. Ia masih teringat akan teman-temannya yang menjauh dari dia.
        Saat ingin mengikuti lomba cerdas cermat antar kecamatan, ia memberikan kami inspirasi yag sangat luar biasa. Inspirasi dia membuat sekolah kami mendapatkan penghargaan untuk yang kedua kalinya.
        Hari itu telah berlalu dan waktu yang paling pahit buat kami. Kami kehilangan anak jenius pesisir karena ia harus menggantikan posisi ayahnya yang telah meninggal dunia.
        Hati kami semua pun bersedih karena kami tidak akan bisa menemukan orang yang jenius seperti dia. Bagiku orang seperti dia lahir dalam sepuluh tahun sekali. Saat ia berpamitan ke sekolah, aku dan kawan-kawanku melarangnya untuk berhenti sekolah tapi usaha kami sia-sia.
        Aku tak akan pernah menyerah untuk meraih harapan.
        Dua puluh tahun kemudian aku sudah di Prancis. Aku sudah mewujudkan cita-citaku yang selama ini aku pendam di dalam hati sanubariku. Saat aku ingin menengoki desaku aku bertemu dengan teman lamaku “Lintang si otak jenius”. Hatiku sangat gembira begitu melihat dia. Ibaratkan aku seperti di surga bertemu dengan professor yang sangat aku kagumi. Aku berbincang-bincang dengan dia dan ia sekarang memiliki seorang putri yang cantik yang bersekolah di tempat kami dulu bersekolah.      
edit post
Reaksi: 
0 Responses

Poskan Komentar